Di antara kata-kata geguritan yang tampak sederhana, tersimpan kegelisahan, harapan, kritik, sekaligus doa yang sulit diucapkan secara langsung. Itulah kesan pertama yang saya rasakan ketika membaca Ngudarasa Nyawang Kahanan, antologi geguritan karya Agus Buchori. Buku setebal 78 halaman yang diterbitkan oleh Lensa Publishing ini mengajak pembaca menyelami kehidupan melalui bahasa Jawa yang puitis.
Judulnya sendiri terasa mengandung makna mendalam. Ngudarasa berarti mengurai rasa, sedangkan Nyawang Kahanan berarti memandang keadaan. Sejak halaman pertama, pembaca diajak melihat kehidupan dengan mata hati, bukan sekadar mata kepala.
Identitas Buku
Judul: Ngudarasa Nyawang
Kahanan
Penulis: Agus Buchori
Penerbit: Lensa Publishing
Jumlah halaman: 78 halaman Jenis: Antologi Geguritan
Tentang Penulis, Agus Buchori merupakan penyair asal Paciran, Lamongan. Selain bekerja sebagai arsiparis di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Lamongan, ia juga aktif mengajar bahasa Jawa. Pengalaman hidup yang dekat dengan masyarakat membuat puisinya terasa membumi. Ia tidak menulis sesuatu yang jauh dari kenyataan, melainkan menangkap denyut kehidupan sehari-hari kemudian mengolahnya menjadi geguritan yang penuh makna.
Hal yang paling menarik dari buku Ngudarasa Nyawang Kahanan adalah tema-temanya yang sangat beragam. Agus Buchori tidak hanya berbicara tentang cinta atau kerinduan. Ia juga mengangkat persoalan sosial, politik, spiritualitas, hingga kegelisahan manusia. Misalnya pada geguritan "Ana Sing Ora Ana." Puisi ini membawa pembaca merenungkan hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Bait-baitnya mengajak pembaca menyadari bahwa di balik segala sesuatu yang tampak, selalu ada kekuatan yang tidak kasatmata. Nuansa religius juga terasa pada geguritan "Jroning Qalbu." Walaupun hanya terdiri dari beberapa larik, maknanya cukup dalam.
Jroning
Qolbu
Sawangen
ning aja meri
Sejatine
mripatmu
Ajeg
kandha ning ora pener
Kang
pener ana jroning qalbu
Ning
awakmu ora tau nggugu
Di sisi lain, Agus Buchori juga berani
menyentil kondisi sosial melalui geguritan "Nyawang Kahanan." Warung
kopi, percakapan masyarakat, hingga hiruk-pikuk politik menjadi latar yang
begitu akrab. Puisi ini tidak menggurui, melainkan mengajak pembaca ikut
berpikir tentang keadaan yang sedang terjadi.
Kritik sosial semakin terasa dalam geguritan "Petruk Dadi Ratu." Tokoh Petruk, yang dikenal dalam dunia pewayangan sebagai rakyat jelata, dijadikan simbol perubahan zaman. Dengan satire yang halus, penyair mengingatkan bahwa kekuasaan tidak selalu berjalan seiring dengan kebijaksanaan. Sindiran-sindirannya terasa tajam, tetapi tetap dibungkus dengan gaya bahasa yang santun. Bahasa yang sederhana, tetapi sarat makna.
Agus Buchori tidak berusaha membuat geguritan yang rumit hanya demi terlihat indah, justru kesederhanaan diksi menjadi daya tarik utama. Bahasa Jawa yang digunakan terasa alami dan dekat dengan penuturnya. Namun, bagi pembaca yang belum terbiasa membaca geguritan, beberapa kosakata mungkin membutuhkan pembacaan ulang agar maknanya benar-benar meresap. Menariknya, semakin dibaca, setiap larik justru membuka ruang tafsir yang semakin luas.
Gaya penulisannya juga tidak berlebihan. Ia membiarkan pembaca menemukan makna sendiri tanpa dipaksa menerima satu penafsiran tertentu. Kritik yang tidak menghakimi Banyak karya sastra kritik sosial terdengar keras dan penuh amarah namun Agus Buchori memilih jalan berbeda. Kritik-kritiknya disampaikan melalui simbol, perumpamaan sehingga terasa lebih halus. Cara seperti ini membuat pembaca tidak merasa sedang diceramahi. Sebaliknya, mereka diajak bercermin dan menilai keadaan berdasarkan pengalaman masing-masing.
Beberapa hal yang menjadi kekuatan buku ini adalah tema yang beragam, mulai dari spiritualitas, sosial, budaya, hingga politik. Bahasa Jawa yang indah dan komunikatif. Sarat nilai kehidupan tanpa terkesan menggurui. Kritik sosial disampaikan dengan elegan melalui simbol-simbol budaya Jawa.
Bagi saya sebagai pembaca, buku ini bisa dilengkapi glosarium atau penjelasan singkat mengenai beberapa kosakata daerah yang jarang digunakan dan diambahkan adanya ilustrasi yang mendukung. Selain itu, beberapa geguritan terasa sangat singkat sehingga meninggalkan rasa penasaran. Tapi justru di situlah kekuatan puisinya yaitu memberi ruang kepada pembaca untuk melanjutkan makna dengan pengalaman masing-masing.
Ngudarasa Nyawang Kahanan bukan sekadar kumpulan geguritan. Buku ini adalah catatan batin seorang penyair yang mengamati kehidupan dengan mata yang peka dan hati yang jernih. Setiap puisi seperti mengajak kita berhenti sejenak di tengah hiruk-pikuk dunia, lalu bertanya “Sudahkah kita benar-benar melihat kehidupan, atau selama ini hanya sekadar melaluinya?”
Bagi saya, membaca Ngudarasa Nyawang
Kahanan bukan hanya menikmati keindahan bahasa Jawa, tetapi juga belajar memahami
kehidupan dari sudut pandang yang lebih tenang dan lebih bijaksana. Buku ini
sangat saya rekomendasikan untuk pecinta sastra, guru, mahasiswa, pegiat
literasi dan juga masyarakat umum. Bagi teman-teman yang ingin membaca keseluruhan
isi bukunya bisa menghubungi saya atau penulisnya langsung melalui media sosial
@guslitera.

Post a Comment